| By sandy permana,
on Wednesday, 09 June 2010
|
Views : 161  |
Published in : News, Opini |
Oleh Najmah, SKM, MPH (Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Unsri) Jumlah penderita HIV/AIDS makin tahun bukanya makin menurun, tetapi malah sebaliknya. Walaupun jumlah kasusnya tak sebanyak penyakit menular lainnya di Indonesia, tetapi Indonesia menjadi fokus dunia dalam pencegahan penyebaran HIV/AIDS. Kenapa demikian dan apa solusi yang ditawarkan untuk mengontrol penyebaran HIV/AIDS?HIV/AIDS, mendengarkannya saja banyak orang takut, karena ketika seseorang udah terkena HIV/AIDS baik sengaja ataupun tidak sengaja, sampai saat ini belum ada obat yang terbukti secara ilmiah dapat menyembukan HIV/AIDS ataupun imunisasi untuk mencegah penularan HIV/AIDS. Hampir semua penderita HIV akan berguguran satu persatu pada jangka waktu 5-10 tahun atau lebih. Namun demikian, jumlah kasus ini tidak beranjak turun. Banyak juga anak-anak menjadi korban yang tak berdosa menderita penyakit ini yang didapat dari kedua orangtuanya. Di Indonesia sendiri, jumlah penderita AIDS diperkirakan berkisar 16610 hingga akhir 2008 selama 10 tahun terakhir (Depkes RI, 2009). Sedangkan di Sumatera Selatan sendiri kasus HIV yang terdeteksi hingga Desember 2009, berkisar 482 dan kasus AIDS berkisar 248 (tahun 1995-2009, Dinkes Prov Sumsel). Jika kita lihat dari jumlah kasus HIV/AIDS, kasus HIV/AIDS ini tidak sebanyak kasus penyakit menular lainnya seperti DBD, diare, ISPA dan sebagainya. Jadi mengapa Indonesia menjadi pusat perhatian dunia terhadap permasalahan ini? Menurut panduan WHO (World Health Organisation/Badan Kesehatan Dunia), ketika kita menemukan 1 kasus HIV positif, itu berarti ada 100 kasus HIV positi yang belum terdeteksi di masyarakat. Jadi, jika kita hitung jumlah keseluruhan HIV berdasarkan konsep WHO tersebut, berarti di Sumatera Selatan, lebih kurang terdapat 482.000 jiwa yang mengidap HIV dan 248.000 penderita AIDS yang belum terdeteksi. Hal yang paling mengkhwatirkan ketika para penderita HIV, yang kebanyakan tidak sadar bahwa ditubuhnya terdapat virus yang belum ada obatnya ini ini, mungkin masih nyaman dengan kehidupan dan perilakunya yang kemungkinan besar rentan menularkan si virus pada orang lain. Hal ini dapat disebabkan ketidaktahuan penderita tentang si HIV/AIDS ini ataupun tertular dari pasangannya yang telah menderita HIV tetapi belum menunjukkan gejala dari penyakit ini, karena umumnya gejala infeksi dengan jelas dapat dilihat setelah beberapa tahun penderita tertular HIV (rata-rata 8 tahun, tetapi dinegara berkembang lebih pendek). Walaupun prevalensi HIV/AIDS di Indonesia masih dibawah 1 % (berkisar 0.1 %) pada populasi umum, namun pada kelompok resiko termasuk pengguna napza suntik (penasun), wanita pekerja seksual (WPS), pria beresiko tinggi (misal; supir truk, pekerja pelabuhan, anak buah kapal dsb), waria, dan lelaki suka lelaki (LSL), angka insidens HIV/AIDS udah melebihi angka yang mengkhawatirkan. Oleh karena itu, Indonesia dikenal dengan istilah ‘epidemik yang terkonsenterasi pada kantong-kantong tertentu’. Bayangkan, jika satu penasun yang terkena HIV dari penggunaan jarum suntik bersama-sama temannya, lalu menggunakan Napza lagi dengan menggunakan jarum suntik yang tidak steril dan secara bersama-sama dengan 10 rekannya, kemudian rekannya kembali pada keluarganya atau pasangannya masing-masing. Apalagi kalau 1 penasun mempunyai lebih dari 1 pasangan atau suka jajan. Jadi, kita bisa bayangkan, sungguh dahsyatnya penularan HIV pada rekan-rekan penasun dan pasangannya, dan begitu seterusnya. Kita tahu bahwa, tidak menggunakan napza ataupun tidak melakukan seks bebas dan tidak aman, merupakan cara terbaik untuk mengindari HIV/AIDS. Tetapi, kita tidak menutup mata, bahwa untuk berhenti menggunakan napza secara langsung itu bukannya hal yang mudah. Angka relapse (kambuh kembali) setelah mengikuti pusat rehabilitasi untuk menghilangkan ketergantungan napza, ataupun apakah kita bisa meminta para WPS untuk berhenti melakukan pekerjaanya, jika kita tidak bisa memberikan alternatif pekerjaan yang lebih baik. Ataupun kita meminta para pelanggan WPS untuk menghentikan perilakunya. Tetapi, dibalik rumitnya masalah pada penyebaran HIV/AIDS di Indonesia, dunia menawarkan alternative pemecahan masalah yang berkesinambungan. Hal ini dikenal dengan ‘Harm reduction’ atau lebih dikenal dengan pengurangan dampak buruk. Tujuan jangka pendek Harm Reduction adalah untuk mencegah penularan HIV/AIDS secepat mungkin. Alternative yang ditawarkan meliputi beberapa hiraki, yaitu ; 1). Jangan menggunakan Napza, 2). Jika kamu pengguna, jangan pilih Napza dengan menggunakan jarum suntik, 3). Pengguna Napza suntik, gunakan peralatan suntik dan alat lainya yang steril dan tidak berbagi peralatan suntik, Dan 4). jika kamu menggunakan peralatan yang tidak steril dan menggunakannya secara bersama, cuci alat suntik sebelum digunakan teman lainnya (AHRN & CHR Burnet Institute, 2003). Hirarki diatas menunjukkan bahwa tidak mengkonsumsi Napza tetap merupakan metode yang paling efektif dalam mengurangi efek negatif dari penggunaan obat-obatan tersebut. Tetapi, harm reducution memberikan alternatif untuk rekan-rekan kita yang tidak bisa berhenti menggunakan Napza secara drastis. Sehingga diharapkan, penerapan HARM REDUCTION secara berkesinambungan dapat mencegah penyebaran HIV secara cepat di Indonesia. Apakah Indonesia khususnya akan melaksanakan Program Harm reduction secara berkesinambungan sebelum HIV/AIDS ini menyebar pada populasi umum dengan cepat seperti yang terjadi di Afrika tanpa tergantung pada bantuan asing? Kita harap pimpinan kita jeli dan bisa memikirkan wacana ini.(*) sumber: www.sumeks.co.id
Last update : Wednesday, 09 June 2010
|
|
|