Image

Fight Back, Fight Aids

Fight Back, Fight AIDS

Selamat Datang di website Jangkar. 

 

Image

Anda bisa mengirimkan tulisan/ artikel apa saja mengenai website ini, informasi mengenai harm reduction dan HIV/AIDS  di Indonesia, juga opini anda. Tulisan/ artikel tidak boleh mengandung unsur SARA, ejekan, termasuk kata-kata yang tidak sopan. Anda dapat mengirimkan tulisan/ artikel ke This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it . Anda dapat mengakses semua informasi yang terdapat di website ini dengan mendaftar sebagai angota, silahkan register dengan mengklik tulisan register yang tersedia di form login.

 

 

 
Image

Form Login

Online User


Image

Bentang Alam

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday67
mod_vvisit_counterYesterday218
mod_vvisit_counterThis week477
mod_vvisit_counterThis month1474
mod_vvisit_counterAll176073
Home arrow Lintas HR arrow Highlights arrow Totok Darah, Alternatif Pengobatan AIDS
Totok Darah, Alternatif Pengobatan AIDS PDF Print E-mail

FIRMAN SUCI ANANDA
WASPADA ONLINE

MEDAN - Ternyata ARV (Anti Retroviral) bukan jalan satu-satunya media untuk pengobatan penderita HIV/AIDS yang baru-baru ini diterapkan oleh pemerintah. Masih ada alternatif lain yang mampu mengobati dan melakukan pengobatan kepada penderita penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh ini..

Totok darah, salah satu media pengobatan yang dikembangkan oleh CHS (Center for Health Service) Medan dan Padepokan Walet Puti' Malang telah membuahkan hasil yang cukup mengesankan.

Dika, remaja 21 tahun yang tinggal di Malang, yang merupakan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) selama 3 (tiga) tahun sejak tahun 2006 itu ternyata berhasil mengubah status penyakitnya menjadi HIV positif dengan mengikuti terapi pengobatan yang dikembangkan oleh CHS dan Padepokan Walet Puti'.

"Awalnya, Dika menggunakan ARV sebagai media pengobatannya. Namun, keluarga Dika sendiri pasrah terhadap kondisi anaknya dan akhirnya menyerahkan kepada CHS untuk dilakukan pengobatan terhadap anaknya, terserah bagaimana caranya." Direktur CHS (Center for Health Service) Medan, Zulaini tadi siang.

Faktanya, kondisi Dika menunjukkan perubahan yang signifikan, ditandai dengan naiknya berat badan tubuh Dika sebanyak 8 kilogram.

"Saya juga kaget. Tidak menyangka saja apa yang kami lakukan ini ternyata membuahkan hasil positif bagi Dika. Padahal, kami hanya melakukan teknik totok darah dan memberikan ramuan yang harus diminum secara rutin oleh penderita." ujarnya.

Zulaini juga menambahkan, metode yang kami gunakan sebenarnya hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah melalui ARV-nya. Namun, kami mencoba juga mengubah pola hidup lama penderita menjadi pola hidup yang baru yang memang sangat menyakitkan jika diterapkan kepada si penderita.

"Bentuknya adalah rehabilitasi, tetapi kami masih memberikan kesempatan kepada pasien untuk melakukan aktivitas sebagaimana yang biasa dilakukan. Hanya saja, kami menerapkan pola disiplin waktu kepada pasien," terangnya.

Kedisiplinan pasienlah yang diutamakan dalam pengobatan yang dilakukan oleh CHS dan Padepokan Walet Puti' kepada penderita HIV/AIDS ini.
(dat04/wol-mdn)

Link: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=88187&Itemid=27

 
< Prev   Next >

Lantang Suara



You must be a registered user to shout!
Get your account here!

Photo Galeri

Jangkar Photo Galeri
 

tagGlogyNat
04.09.2010 23:45:18
Advertisement