| By sandy permana,
on Tuesday, 05 February 2008
|
Views : 3525  |
Published in : News, Jaringan |
Januari 1999. Tragedi yang menyesakkan dada bangsa Indonesia terjadi di Maluku. Bumi yang indah dan kaya terkoyak konflik yang berbau SARA. Sontak seluruh kegiatan di Maluku lumpuh, termasuk salah satu sektor terpenting, yaitu pendidikan. Syukurlah, dalam keterpurukan ini masih ada sekelompok orang yang peduli dengan pendidikan bangkit dan melawan keadaan. Inilah cikal bakal Pusat Studi Relawan Maluku.
Pada awalnya memang sekadar inisiatif yang timbul untuk membentuk sebuah model pendidikan alternatif bagi anak-anak di camp pengungsian. Dibentuklah Tim Relawan Kemanusiaan (TRK) yang berlokasi di Camp Pengungsi Ruko Batu Merah (Camp Pengungsi terbesar di Ambon). TRK merupakan tim pertama yang mengadakan pendampingan di sana. Namun, masih agak sulit untuk bekerja sama dengan lembaga donor jika TRK belum resmi secara hokum. Maka akhirnya pada tanggal 7 Desember 1999 lahirlah sebuah lembaga relawan yang diberi nama Pusram (Pusat Studi Relawan Maluku). Kini, Pusram telah memiliki tujuh orang staf dan 23 orang relawan yang ditempatkan di titik-titik tongkrongan pengguna. Pada saat konflik dan pascakonflik terlihat bahwa tingkat peredaran dan pengguna narkoba meningkat cukup signifikan, terutama shabu-shabu. Pusram melihat hal ini sebagai suatu masalah besar yang memerlukan penanganan khusus. Maka, bertepatan dengan hari AIDS sedunia tahun 2002, Pusram mulai mengkonsentrasikan program-programnya pada masalah penggunaan narkoba khususnya para IDU. Hasilnya tidak mengecewakan, Pusram menjadi lembaga pertama yang melakukan pendampingan bagi pengguna narkoba di Maluku. Sampai saat ini, telah sekitar 50 orang pengguna napza suntik yang didampingi. “Kini, kegiatan yang sedang digalakkan adalah penyuluhan tentang narkoba dan HIV/AIDS di sekolah-sekolah setingkat SMA. Kami bekerjasama dengan BNP maluku dan mendapat tanggapan yang positif dari dewan guru,” ujar Badri, seorang relawan Pusram. Selain itu, Pusram juga melakukan beberapa program, seperti: lokakarya dan seminar tentang advokasi harm reduction dan HIV/AIDS, pertemuan rutin 3 bulan sekali dengan tokoh adat, tokoh masyarakat, Polisi, pemerintah daerah, LSM local, dan pihak-pihak yang peduli dengan narkoba dan HIV/AIDS, dan aksi sejuta poster/stiker dalam rangka advokasi bagi program harm reduction dan HIV/AIDS di kalangan masyarakat. Seluruh kegiatan Pusram belum mendapat dukungan dana dari donor. Oleh karena itu, Pusram mencoba menghidupi diri dengan membuat unit-unit kegiatan mandiri yang dapat menunjang sumber daya dan dana, seperti unit kegiatan kafe, counter suvenir “Oleh-Oleh” Ambon yang rencananya akan dijalankan dalam waktu dekat ini. Rendah Kesadaran, Tinggi Kendala “Program kita agak tersendat karena kurang didukung oleh dinas kesehatan. Kalau berurusan sama mereka harus sedia dana terlebih dahulu sedangkan bagi kita yang terpenting menjangkau ke masyarakat dulu,” cerita Badri lebih lanjut. Tampaknya masalah stigma dan diskriminasi terhadap IDU dan ODHA masih sangat kental. Langkah-langkah, prosedur, dan teknis pelaksanaan pemeriksaan dan konseling juga belum tersosialisasi dengan baik, seperti yang diceritakan Badri kepada Kabar Jangkar. “Pernah ada seorang pemakai yang kami curigai status HIV-nya. Lalu kami bawa dia ke dokter. Memang gejalanya agak mengkhawatirkan. Tapi dokternya langsung main tembak saja, ‘kamu ini kena AIDS!’. Padahal belum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.” Tindakan dokter yang memvonis tanpa konseling dan bahkan sebelum dilakukan tes membuat Badri kewalahan. Ia mencoba membesarkan hati dampingannya itu dengan mengatakan bahw si dokter belum tentu benar. Namun, tampaknya dampinganya terlanjur trauma, “Taunya pas perjalanan dia loncat dari motor,” ungkap Badri Kumkelo lebih lanjut. Segala perjuangan belum didukung secara penuh oleh pemerintah, dalam hal ini Dinas Kesehatan. Rumah Sakit yang menjadi rujukan pun masih selalu meminta bayaran yang begitu besar. “Mereka diskriminatif terhadap penderita,” ujar Badri lirih. Entah karena kepedulian yang masih sangat rendah atau memang tidak ada alokasi dana khusus untuk isu HIV/AIDS. Badri sendiri lima tahun yang lalu mengikuti pelatihan tentang HIV dan narkoba di puskesmas tapi setelah itu sampai saat ini belum pernah ada lagi pelatihan semacam itu. Syukurlah masih ada pihak yang mau membantu. Pusram melakukan pendekatan dengan kepala RS Tulehu, dr. Pontoh mengenai program ini dan tampaknya telah membuahkan hasil. Kepala RS Tulehu bersedia untuk mengembangkan program ini di RS dengan fasilitas yang memadai. “Generasi muda di Ambon ini, kan, harusnya terbebas dari narkoba dan AIDS. Pasca konflik jadi rawan sekali karena narkoba bisa masuk dari mana saja, paling banyak masuk dari Jakarta dan Menado. Pihak kepolisian memang mengadakan antisipasi, tapi tetap ada yang lolos juga,” papar mantan tenaga keperawatan Puskesmas ini. Hambatan dan cobaan yang terjadi tidak mengendurkan visi Pusram yang melihat bahwa kehidupan yang sehat secara bertanggung jawab adalah hak setiap individu dan kelompok masyarakat. Pusram siap mendukung setiap individu dan seluruh kelompok masyarakat untuk berperilaku hidup sehat secara fisik, sosial, dan psikologis. Tugas ini tentunya tidak hanya dipikul oleh Pusram. –dan Last update : Tuesday, 05 February 2008
|